Monthly Archives: December 2007

dialog virtual..( lagi )

—-

Tragedi k****l kambing

Satu persatu melihat kambing, sapi dan hewan-hewan qurban disembelih. Mengajak beberapa keponakanku untuk datang ke TKP. Sebenarnya pada saat penyembelihan, aku ingin mengajak mereka ( anak2 kecil itu )pergi, dan kembali lagi nanti ketika semua sudah menjadi daging bungkusan. Tapi justru orang-orang disekitarku melarangnya. hmm…
Aku hanya ingin anak2 itu nantinya tidak mempersepsi peristiwa “agung” tersebut sebagai sebuah horror. tapi ya sudahlah..
Sambil terduduk, aku mencoba membongkar kembali “dokumen-dokumen” di otakku untuk mencoba memberikan sedikit analisa dan pemahaman kepada diriku sendiri tentang kejadian tersebut. Nyoba2 melihat dari berbagai sudut pandang, agar bisa melihat potret sebuah kejadian dengan fokus yang pas. zooom!!!

Pada saat gaman diacungkan di leher sang wedhus, nama Tuhan terucap dan keluar dari bibirnya. dan sesaat “croot!!” darah bercucuran, diacungkan lagi, “croot!!” dan lagi “croot!!” tubuh wedhus tergoncang-goncang dan mati.
‘dan sembelihlah aku, jika memang begitu cara ibadahmu!”, kira2 begitu gumam si kambing kepada kita.
Saat sang jagal menebas leher wedhus, apakah nama Tuhan yang terucap itu keluar dari bibirnya saja atau dari segenap jiwa dan kesadarannya ?? apakah hanya sekadar kata yang kita ucapkan ? bukankah kita akan menjadi orang yang kafir jika kita menyembah nama Tuhan tanpa tahu maknanya?? bukankah kita akan menjadi syirik ( menduakan ) jika kita menyembah nama dan sekaligus maknaNya?

Agama apapun yang kita anut sesunggunya tidak sepenting bagaimana kita musti menganutnya. Bagaimana kitanya, bagaimana sang penganut itu sendiri. Dan ketika seseorang beragama sudah bisa masuk ke tataran hakikat, bukan saja nama organisasi agama itu tidak lagi menjadi penting. Bahkan, nama Tuhan-nyapun juga menjadi tidak penting. Karena itu, menurut saya, iman yang sesungghunya adalah siapa yang mampu menyembah Tuhan pada maknaNya tanpa nama.

Kembali ke persoalan peristiwa qurban, saya masih termangu dan duduk diatas kolam ikan lele sambil melihat kambing2 itu disembelih. Anak-anak ramai, orang2 dewasa sibuk membagi-bagi daging. Yang enak-enak dipilih duluan untuk dirinya sendiri. Sisanya ya terserah untuk siapa nanti. Biasanya bagian2 tertentu bisa menjadi rebutan antar panitia, jadi iri-irian. Diantara bagian itu adalah bagian kontol kambingnya, kepala kambingnya, jeroan-jeroannya dan kikil-kikilnya. Beberapa orang pulang dengan muka masam dan hati dongkol karena menganggap pembagian panitia tidak adil. Beberapa yang lain adu mulut karena k****l yang dipesannya ke panitia hilang tiba-tiba.
Ashar pun tiba, setelah jamaah turun dari masjid, masih saja bapak-bapak membahas “tragedi k****l kambing” dan rembesan-rembesannya dengan serunya. Analisa mereka kejauhan dan cenderung ngawur, dikait-kaitkan dengan kelompok-kelompok pemilihan lurah, kelompok2 oposan lah, dll.
“Sudahlah, pak, mari besok pergi ke pasar, beli kambing yang ‘k****l’nya lebih besar!”, gumamku dalam hati sambil cekikikan. Atau kalau memang tidak terima karena menganggap persoalannya adalah persoalan keadilan dan jabatan, ya kita nunggulah tahun depan. duuw…

So….
Apakah acara tersebut hanya akan menjadi sekadar ritual yang dijalankan setiap tahun ?? tanpa kita mengerti mengapa kita harus melakukannya kecuali sekadar napak tilas perjalanan hidup nabi yang jarang sekali kita maknai ?
Mengapakah leher binatang yang musti kita tebas sementara jiwa kebinatangan dalam diri kita tetap saja kita asuh dan pelihara??

Saat itu aku masih duduk di tangga masjid dan datanglah sms dari seorang teman yang terkasih, ” apakah dikau masih ogah mengikuti pesta embik ini ?”
Aku tersenyum dan kubalas,”Sudah ikut sih,….cuman aku batasi!”