“Hate the sin, but love the sinner” — Mahatma Gandhi
Malam mingguan, nggak ada pacar, nggak ada yang diapelin, terpaksa deh jalan-jalan puter-puter surabaya bersama seorang teman. Sampai kemudian menjelang tengah malam, terlintas pikiran untuk mengamati kehidupan malam. Lalu kita jalan melalui tempat-tempat hiburan. Duduk-duduk di luar, ngobrol ngalor ngidul, minum kopi dan nyamil kacang rebus sambil sesekali melirik gigihnya mucikari berpromosi.
Pemandangan seperti itu tidaklah terlalu mengherankan buat saya, karena dulu saya punya teman yang bermukim di dekat daerah tersebut dan wajar jika saya selalu melaluinya untuk bisa mencapai kediaman teman saya itu.
Perbedaannya adalah pada impressi, dulu saya hanya tersenyum acuh atau tertawa ”nakal” saat melihat pemandangan tersebut, dan memberikan porsi waktu yang panjang untuk sekadar membicarakan, menggunjingkannya dan seolah “merasa menang” bahwa aku tidak dilahirkan di lingkungan seperti itu dan bergaul disitu. Namun setelah 4 tahun berselang, rupanya pemandangan itu memantik kesan yang berbeda dalam batin saya.
Ternyata tidak sedikit dari mereka adalah anak orang-orang kaya dan bahwa mereka menjadi kecanduan melacur karena hasrat mereka untuk menikmati kehidupan yang ”manis”. Meski banyak juga yang terhimpit masalah ekonomi ( apakah ini disebabkan hanya oleh tidak adanya pergerakan materi, ataukah ketiadaan hati untuk berbagi? ).
Disadari atau tidak, peradaban kita telah menjadikan wanita sebagai obyek kekaguman atau kegunaan. Ia telah merampas dari wanita kepribadiannya, satu-satunya hal yang menjadikannya pantas dan berhak memperoleh penghargaan dan penghormatan. Situasi seperti ini seringkali terlihat, tapi ia menjadi lebih jelas nampak dalam parade-parade kecantikan atau dalam beberapa profesi yang khas wanita seperti modelling. Di lapangan ini, seorang wanita tidak lagi merupakan suatu kepribadian atau bahkan mungkin manusia, dan hampir-hampir tak lebih dari ”binatang yang cantik”.
Peradaban kita, secara tak terduga dan tak terasa, telah merendahkan keibuan. Ia lebih mengutamakan tugas seorang sales girl, model, sekretaris dan cleaning woman daripada tugas sebagai ibu. Peradaban seolah ”memaksa” kita untuk memisahkan kaum wanita dari keluarga dan anak-anak agar mereka bisa menjadi pekerja.
Berlawanan dengan itu, agama selalu mengagungkan wanita dan ibu. Ia menjadikannya sebagai perlambang, misteri dan sesuatu yang suci. Seni mermpersembahkan kepadanya bait-bait puisi yang terbaik, musik yang paling menggugah, lukisan-lukisan dan patung yang paling indah. Pablo Picasso telah membuat lukisannya yang agung dan sangat masyhur, Moterhood (Keibuan ), untuk sang ibu.
Ironinya, di saat yang sama, dibangunlah “tempat penampungan” orang-orang usia senja dan tempat bermain anak-anak ( biasanya dinamai taman kanak-kanak, playgroup dll ). Rumah-rumah jompo berdiri sejajar dengan panti pengasuhan anak-anak. Keduanya termasuk dalam tatanan yang sama, dan pada kenyataannya merupakan dua keadaan dari satu solusi yang sama. Panti asuhan dan rumah jompo mengingatkan kita pada kelahiran dan kematian buatan. Keduanya bercirikan kehadiran kenyamanan dan ketiadaan cinta dan kehangatan. Keduanya berlawanan dengan keluarga dan merupakan hasil dari ‘perubahan peran wanita’ dalam kehidupan manusia. Ciri-ciri bersama mereka adalah penghapusan orang tua dan anak. Di panti pengasuhan, anak-anak tak punya orang tua, di rumah-rumah jompo orang-orang tak punya anak. Jadi inilah kemajuan, kemajuan yang melawan kesejatian manusia?
ya, namanya juga korban kemajuan zaman mas
Terdiam waktu membaca yg di atas,tp bacanya aku lanjutkan. Dulu aku pernah menjadi SPG,lumayan untuk nambah uang saku jatoh-jatohnya juga bantu utk pendidikan.Tp aku tetap memberdayakan otak & keterampilan saya.Walaupun saat ini aku bekerja sebagai “Tukang Hitung”. Menurut ku wanita bekerja merupakan persiapan, karna ga tau apa yg akan terjadi jika uda menikah kelak.semua bisa terjadi.ga pernah takut menjadi single, bercerai,apalagi hanya berdiam diri tetap keukeuh ga akan pernah berpikir poliandri,belajar mencari penghasilan.Belajar menjadi manusia yang berbudi,wanita tuh gudangnya kasih sayang loch.Sebenernya aku mampir ke blog ini ga sengaja..lumayan yg ini. Salam kenal ya